TAFSIR SIAPA? (GEMPA DI SUMATRA)
19 Oct 2009
Akhir-akhir ini beredar SMS yang menyebutkan bahwa kejadian gempa di Padang tercantum dalam Al Qur’an. Redaksinya kurang lebih seperti ini, “Subhanallah, gempa Padang terjadi pada tanggal 11 Syawwal (bulan: 10), lihat QS 11:10. Terjadi pukul 17:16, 17:58, 08:52. Buka Al Qur’an sesuai jam di atas dan renungkan artinya.”
Baiklah, akan kita telusuri satu persatu ayat-ayat tersebut:
QS Hud (11): 10
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.”
QS Al Isra (17): 16
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
QS Al Isra (17): 58
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”
QS Al Anfal (8): 52
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,”(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu dicermati. Jika ayat tersebut ditafsirkan dengan kejadian gempa di Padang, maka tafsiran itu mengandung beberapa hal:
1.Masyarakat Padang akan gembira dan bangga setelah Allah Ta’ala memberikan kepada mereka kebahagiaan sesudah bencana yang menimpa mereka.
2.Allah Ta’ala hendak membinasakan kaum di Padang
3.Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di Padang untuk menaati Allah Ta’ala, akan tetapi mereka melakukan kedurhakaan.
4.Oleh karena itu Allah Ta’ala menghancurkan Padang dengan sehancur-hancurnya.
5.Keadaan masyarakat Padang serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya.
6.Allah Ta’ala menyiksa masyarakat Padang dikarenakan dosa-dosanya.
Otomatis, jika tafsiran tersebut dianggap benar maka berarti orang-orang yang hidup mewah di Padang telah melakukan kedurhakaan dan kepada Allah Ta’ala sehingga Allah Ta’ala menimpakan adzab kepada mereka dengan menghancurkan negeri mereka. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Ikhwan wa akhawat fillah, dalam menafsirkan Al Qur’an, kita tidak bisa seenaknya saja menafsirkan Al Qur’an mengikuti hawa nafsu tanpa mengikuti kaidah yang telah dijelaskan oleh para ulama. Di antara metode menafsirkan Al Qur’an antara lain:
1.Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al Qur’an sehingga Allah pulalah yang paling mengetahui apa yang Dia maksudkan.
2.Menafsirkan Al Qur’an dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang menyampaikan kalamullah sehingga beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lebih mengetahui tentang maksud Al Qur’an.
3.Menafsirkan Al Qur’an dengan perkataan sahabat Radiyallahu ‘Alaihim Ajma’in. Al Qur’an diturunkan dengan bahasa dan periode mereka. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik umat ini yang paling tulus dalam mencari kebenaran, paling selamat (terhindar) dari mengikuti hawa nafsu serta paling suci dari penyimpangan yang menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran.
4.Menafsirkan Al Qur’an dengan perkataan Tabi’in. Para Tabi’in merupakan sebaik-baik manusia sepeninggal sahabat. Mereka berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat.
5.Menafsirkan Al Qur’an berdasarkan makna syari’at atau bahasa. Bila antara makna secara syari’at dan bahasa berbeda, maka yang diambil adalah makna secara syari’at karena Al Qur’an turun untuk menjelaskan bahasa kecuali terdapat dalil yang menguatkan makna secara bahasa, maka maknanyalah yang kemudian diambil.
Kembali ke bahasan SMS tadi, tidak ada satupun metode penafsiran Al Qur’an yang benar yang digunakan oleh si pembuat SMS tersebut. Pertanyaan terbesarnya adalah dari mana si pembuat SMS tersebut mengambil dasar dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’anul Karim di atas? Kenapa yang dipilih adalah waktu (jam, tanggal, dan bulan) kejadian gempa? Mengapa bukan tahun? Atau bahkan koordinat lintang dan bujur Padangnya sekalian? Kenapa yang dipilih waktu Indonesia Barat, bukan yang selainnya? Kenapa memakai penanggalan qamariyyah ketika menentukan QS Hud (11): 10? Bukan menggunakan penanggalan syamsiyyah saja? Pukul 17:16, 17:58, dan 08:52 tersebut berdasarkan apa? Bukankah di Indonesia ini banyak sekali versi waktu?.
Apakah si pembuat SMS ini mengetahui betul bahwa orang-orang kaya di Padang sana telah berbuat kedurhakaan terhadap Allah Ta’ala? Bukankah hal ini sama saja dengan suudzan terhadap mereka? Bukankah di berita ada yang menyebutkan bahwa gempa di Jambi terjadi pada pukul 08:16? Kenapa kejadian gempa di Jambi tidak ditafsirkan dengan QS Al Anfal (8): 16? Apa karena Al Anfal (8): 16 berisi tentang qital (perang)? Atau penafsiran tersebut hanya berlaku di Padang? Tidak di Jambi? Padahal jarak Padang-Jambi tidak terlalu jauh? Tanya kenapa??? Atau memang sengaja dicocok-cocokan (baca: digathuk-gathuke)? Jadi, ketika menemui waktu (jam) yang tidak bisa dicocok-cocokan dengan ayat Al Qur’an, maka tidak dipakai?
Semoga kita menjadi penutup kebatilan dengan tidak menyebarkan SMS semacam itu dan menjadi pembuka kebaikan dengan memberitahu saudara-saudari kita tentang metode penafsiran Al Qur’an yang sesuai dengan kaidah yang telah digariskan oleh para ulama. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimushshalihaat.
Tanya: